Tuesday, October 28, 2008

Menata Timbangan Diri

dakwatuna.com - “Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Maha Besar Allah yang telah menciptakan dunia begitu indah. Awan pekat berbondong-bondong digiring angin. Hujan bersih menitik dari langit. Tumbuh-tumbuhan pun menghijau, menyegarkan pandangan mata. Dan, menyejukkan hati yang gelisah.
Saatnya diri untuk bercermin. Menengok seberapa kotor wajah karena terpaan debu kehidupan. Saatnyalah, menimbang diri dengan penuh kejernihan.

Resapilah bahwa diri terlalu banyak dosa, bukan sebaliknya
Di antara bentuk kelalaian yang paling fatal adalah merasa tidak punya dosa. Yang kerap terbayang selalu pada kebaikan yang pernah dilakukan. Dari sinilah seseorang bisa terjebak pada memudah-mudahkan kesalahan. Bahkan, bisa menjurus pada kesombongan. “Sayalah orang yang paling baik. Pasti masuk surga!”
Dua firman Allah swt. menyiratkan orang-orang yang lalai seperti itu. “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Bentuk lain dari sikap ini, adanya keengganan mencari fadhilah atau nilai tambah sebuah ibadah. Semua yang dilakukan cuma yang wajib. Keinginan menunaikan yang sunnah menjadi tidak begitu menarik. Ibadahnya begitu kering.
Padahal, Rasulullah saw. tak pernah lepas dari ibadah sunnah. Kaki Rasulullah saw. pernah bengkak karena lamanya berdiri dalam salat. Isteri beliau, Aisyah r.a., mengatakan, “Kenapa Anda lakukan itu, ya Rasulullah? Padahal, Allah sudah mengampuni dosa-dosa Anda?” Rasulullah saw. menjawab, “Apa tidak boleh aku menjadi hamba yang senantiasa bersyukur?”
Beliau saw. pun mengucapkan istighfar tak kurang dari tujuh puluh kali tiap hari. Setiapkali ada kesempatan, beliau saw. selalu memohon maaf kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan beliau. Beliau saw. khawatir kalau ada kesalahan yang tak disengaja. Kesalahan yang terasa ringan buat diri, tapi berat buat orang lain.

Berlatih diri untuk menerima nasihat, dari siapapun datangnya
Boleh jadi, sebuah pepatah memang cocok buat diri kita: gajah di pelupuk mata tak tampak, sementara kuman di seberang lautan jelas terlihat. Kesalahan orang lain begitu jelas buat kita. Tapi, kekhilafan diri sendiri seperti tak pernah ada.
Jadi, tidak semua orang yang paham tentang teori salah dan dosa mampu mendeteksi dan mengoreksi kesalahan diri sendiri. Rasulullah saw. pernah menyampaikan hal itu dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, “Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, ‘Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar?’ Orang tersebut menjawab, ‘Ya, benar. Dahulu aku menyuruh berbuat ma’ruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat munkar sedang aku sendiri melakukannya.”
Dari situlah, seseorang butuh bantuan orang lain untuk menerima nasihat. Cuma masalah, seberapa cerdas seseorang menyikapi masukan. Kadang, emosi yang kerdil membuat si penerima nasihat banyak menimbang. Ia tidak melihat apa isi nasihat, tapi siapa yang memberi nasihat. Dan inilah di antara indikasi seseorang terjebak dalam sifat sombong. Sebuah sifat yang selalu menolak kebenaran, dan mengecilkan keberadaan orang lain.

Paksakan diri untuk bermuhasabah secara rutin
Sukses-tidaknya hidup seseorang sangat bergantung pada kemampuan mengawasi diri. Seberapa banyak kebaikan yang diperbuat dan seberapa besar kesalahan yang terlakoni. Kalau hasil hitungan itu positif, syukur adalah sikap yang paling tepat. Tapi jika negatif, istighfarlah yang terus ia ucapkan. Kesalahan itu pun menjadi pelajaran, agar tidak terulang di hari esok.
Masalahnya, orang yang cenderung santai, sulit melakukan muhasabah secara jernih. Timbangannya selalu miring. Yang terlihat cuma kebaikan-kebaikan. Sementara, dosa dan kesalahan tenggelam dengan tumpukan angan-angan.
Muhasabah yang tidak jernih kerap menonjolkan amalan dari segi jumlah. Bukan mutu. Padahal, Allah swt. tidak sekadar melihat jumlah, tapi juga mutu. Bagaimana niat amal, seberapa besar kesadaran dan pemahaman dalam amal tersebut. Dan selanjutnya, sejauhmana produktivitas yang dihasilkan dari amal.
Bahkan boleh jadi, orang justru jatuh dalam kesalahan ketika proses amalnya menzhalimi orang lain. Atau, amal yang dilakukan menciderai hak orang lain. Umar bin Khaththab pernah memarahi seorang pemuda yang terus-menerus berada dalam masjid, sementara kewajibannya mencari nafkah terlalaikan.
Umar bin Khaththab pula yang pernah memberikan nasihat buat kita semua. “Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab. Timbanglah amalan kamu sebelum ia ditimbang. Dan bersiap-siaplah menghadapi hari kiamat (hari perhitungan).”

Gandrungkan hati untuk tetap rindu pada lingkungan orang-orang saleh
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya. Maka, hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping.” (HR. Ahmad)
Nasihat Rasul ini tentu tidak mengharamkan seorang mukmin mendekati orang-orang yang tinggal di lingkungan buruk. Karena justru merekalah yang paling berhak diajak kepada kebersihan Islam. Tapi, ada saat-saat tertentu, seseorang lebih cenderung berada pada lingkungan negatif daripada yang baik. Bukan karena ingin berdakwah, tapi karena ingin mencari kebebasan. Di situlah ia tidak mendapat halangan, teguran, dan nasihat. Nafsunya bisa lepas, bebas, tanpa batas.
Ketika seseorang berbuat dosa, sebenarnya ia sedang mengalami penurunan iman. Karena dosa sebenarnya bukan pada besar kecilnya. Tapi, di hadapan siapa dosa dilakukan. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah memandang kecil (dosa), tapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai.” (HR. Aththusi)
oleh : Muh. Nuh

Orang-orang yang dido'akan Malaikat

Ditulis dalam Artikel, Buku, Renungan, Situs Islami pada 09:13:30 oleh Esa
Insya Allah berikut inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”. (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang - orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat
kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,”Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
—–
Sumber Tulisan Oleh :
Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang-orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir,
Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata, "Amin, Amin, Amin." Ditanyakan kepadanya, "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?" Beliau bersabda, "Artinya : Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata, "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...."

[Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin]

Disalin dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, hal. 27-28, Pustaka Al-Haura.

Yang lebih lengkap lagi akan saya salinkan dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam. Artinya: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata : 'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin".

[Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

Al Muflisun (Orang yang Bangkrut / Pailit)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( أَتَـدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ ؟ )) قَالُواْ : (( اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ )) فَقَالَ : (( إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِيْ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأّتِيْ قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هذَا وَأَكَلَ مَالَ هذَا وَسَفَكَ دَمَ هذَا وَضَرَبَ هذَا فَيُعْطَى هذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ إُخِذَ مِنْ خَطَايَا هُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِيْ النَّارِ ))

Mufradat Hadits ( Kosa Kata )
أَ : Apakah سَفَكَ - يَسْفِكُ : Membunuh
دَرَى – يَدْريْ : Mengetahui ضَرَبَ – يَضْرِبُ : Memukul
المُفْلِسُ : Orang yg bangkrut (pailit) فَنِيَ – يَفْنِيْ : Habis, hancur
دِرْهَمٌ : Uang خَطَايَا جمن خَطِيْـئَةٍ : Dosa
مَتَاعٌ :Harta طَرِحَ – يَطْرَحُ :Melempari
شَتَمَ _ يَشْتُمُ : Mencela قَضَى – يَقْضِيْ : Memenuhi, melunasi
قَذَفَ – يَقْذِفُ :Menuduh (berzina)

Sekilas Tarjamah Perawi
Beliau adalah Abdurrahaman bin Shakhr ad-Dausiy al-Yamani. Dijuluki (Kunyah) Abu Hurairah. Beliau menetap di Madinah al-Munawarah dan meninggal di sana pada tahun 57 H.

Tarjamah Hadits
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. (( HR. Muslim ))
Shahih al-Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shillah waa al-Adab, No :46 78)
Keterangan singkat.
Di dunia ini, mungkin banyak orang-orang yang merasa kuat dapat membebaskan diri mereka dari jeratan hokum akibat perbuatan dzalim mereka terhadap orang lain, baik berupa hutang, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, mencaci maki orang lain dan sebagainya, namun tidak demikian dengan hukum dan keadilan yang Allah tegakkan di hari kiamat kelak, pada saat itu tidak seorang-pun yang dapat membebaskan diri dari kesalahannya selama di dunia yang dia tak pernah bertaubat dan menyesalinya, orang yang mereka dzalimi datang kehadapan Allah mengadukan kedzaliman orang tersebut sedang ia bergantung dengan kepala saudaranya sambil berkata : wahai Tuhan-ku tananyakan kepada orang ini ( yang telah membunuhku ) kenapa dia telah membunuhku di dunia ? dan sebagainya, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepada ummatnya dengan sabdanya : Barangsiapa disisi ada perbuatan dzalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta dihalalkan ( dimaafkan ) sekarang sebelum datang hari yang tidak berlaku pada saat itu emas atau perak.sebelum diambil darinya kebaikannya untuk membayar kedzalimannya terhadap saudaranya, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dibebankan kepadanya keburukan saudaranya itu kepadanya. HR.Bukhari.
Oleh karena itu, segeralah kita membabaskan diri kita dari mendzalimi orang lain, penuhilah setiap yang mempunyai hak akan haknya, dan jangan menunggu hari hari esok karena tidak seorangpun yang mengetahui akan keberadaannya di esok hari.

5. Kandungan hadits :
Hadits ini menerangkan akan adanya pembalasan di hari kiamat.
Orang yang mendzalimi saudaranya di dunia, sedang dia belum bertaubat dari kedzaliman tersebut dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya, maka dia harus membayarnya dengan kebaikannya, dan apabila kebaikannya telah habis maka dosa orang yang didzalimi tersebut akan dibebankan kepadanya sampai semuanya terpenuhi.
Muflis adalah orang yang di akhirat nanti pahalanya habis untuk membayar kedzalimannya dan menerima limpahan dosa dari orang yang didzaliminya sebagai pembayaran atas kedzaliman yang dilakukannya ketika di dunia.

Thursday, October 23, 2008

Indahnya Cinta di Bawah Guyuran Air Hujan...

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Oktober bulan penghujan, tiada hari kecuali air mengguyur hati yang kering dengan siraman rahmat_Nya… terkadang manusia lalai mensyukurinya, sehingga rahmatpun dipandang laknat…
Dengan hati yg insya Allah selalu berusaha basah dg kalimat thayibah, setitik azzam, tekad yg membara utk memperbaiki diri, bersama kafilah dakwah… kajian pekananpun alhamdulillah tiada pernah kita tinggalkan…
Saudaraku yg dimuliakan Allah, liqo’ kemarin sore (23 Oktober 2008) dilaksanakan di Masjid Al Idrisi dlm suasana yg ceria, diliputi ukhuwah dan penuh cinta…bunyi hujan yg turun rintik2 seolah lantunan do’a alam bagi insan yg sedang mantafakuri ayat-ayat_Nya… subhanallah…
Hadir dlm liqo’ ini akhi-akhi kita :
 Ari Susanto
 Slamet Turseno
 Iman Sadesmesli
 Iwan Erik
 Bisma
 Tommy Nautico
Semoga Allah istiqomahkan kita dlm upaya memperbaiki diri… Erfan dan Nurman ijin gak bias datneg krn sedang tugas ke lapangan. Oh ya, beliau2 minta do’anya agar Allah mudahkan urusannya dan lindungi keselamatannya. Amin.

Ocre, liqo’ pekan ini dimulai jam 16.40. Pada liqo’ kali ini, yang bertugas sebagai moderator adalah akhi Iman Sadesmesli…
Moderator memulai majelis dengan mengucap hamdalah kepada Allah SWT, shalawat kepada Rasul_Nya dan mengajak kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita…

Acara pertama adalah tilawah Al Qur’an yg masing2 peserta membaca setengah halaman dari Al Qur’an …
Yg lainnya menyimak dg seksama dan membetulkan jika ada bacaan yg kurang pas tajwidnya… acara tilawah ditutup dg sedikit pemahaman ttg tajwid.
Acara selanjutnya yakni mengkaji kitab kuning… malam ini pembacaan kitab hadits diamanahkan kepada akhi Tomy Nautico… diambilkan dari kitab berjudul Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al ‘Asqolani.
Beliau menerangkan tentang bab Adzan. Penjelasan lebih detail tentang sejarah adzan, sebagai berikut :
…Saat itu Islam telah mantap di Yastrib. Shalat lima kali sehari secara teratur didirikan secara berjamaah. Ketika waktu shalat tiba, masyarakat akan berkumpul di tempat mesjid yang sedang dibangun. Masing-msing menentukan waktu dengan melihat posisi matahari di langit, atau lewat tanda awal terbitnya matahari di ufuk timur, atau tenggelamnya di ufuk barat. Namun pendapat mereka dapat berbeda-beda. Maka Nabi merasa perlu adanya suatu cara memanggil masyarakat untuk shalat ketika waktunya tiba. Pada mulanya, beliau berpikir untuk menunjuk seseorang untuk meniupkan terompet seperti yang dilakukan kaum Yahudi, tetapi beliau kemudian memutuskan untuk menggunakan genta yang terbuat dari kayu, naqus, seperti yang dilakukan umat Kristen di Timur pada waktu itu. Maka 2 lembar kayu dibentuk denta untuk kegunaan itu.

Namun genta itu akhirnya tidak pernah digunakan karena pada suatu malam, seorang Khazraj, Abd Allah ibn Zayd, yang ikut dalam Aqabah Kedua, bermimpi. Dia menceritakannya kepada Rasulullah.
Dalam mimpi itu ada seseorang lewat didepanku mengenakan dua baju berwarna hijau dan ia membawa naqus. Lalu aku bertanya kepadanya,
"Hai Hamba Allah! Maukah engkau menjual naqus itu kepadaku?"
"Apa yang akan kau lakukan dengannya?" ujar lelaki itu.
"Ia akan kami gunakan untuk memanggil orang-orang untuk shalat." jawabku.
"Maukah engkau bila kutunjukkan satu cara yang lebih baik?" tanyanya.
"Cara apa itu?"
"Hendaknya engkau mengucapkan,
Allahu Akbar Allahu Akbar , lelaki berbaju hijau mengulangi takbir sebanyak 4 kali.
Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
Hayya 'alash sholah (2 kali)
Hayya 'alal falah (2 kali)
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah
Nabi menegaskan bahwa mimpi Abd Allah itu benar. Maka beliau menyuruh dia pergi ke Bilai agar ucapan yang didengar dalam mimpinya itu diajarkan kepadanya.

Selanjutnya moderator meneruskan acara berikutnya, yakni kultum, kuliah tujuh menit… dan utk malam ini kultum akan disampaikan oleh ikhwah kita, akhi Iwan Erik…
….Setelah Ramadhan Berlalu…
Setelah bulan Ramadhan berlalu, orang akan terbagi menjadi beberapa bagian,
namun secara garis besarnya mereka terbagi dua kelompok:Kelompok yang pertama:
Orang yang pada bulan Ramadhan tampak sungguh-sungguh dalam ketaatan, sehinggga orang tersebut selalu dalam keadaan sujud, shalat, membaca Al-Quran atau
menangis, sehingga bisa-bisa anda lupa akan ahli ibadahnya orang-orang terdahulu
(salaf). Anda akan tertegun melihat kesungguhan dan giatnya dalam beribadah.
Namun itu semua hanya berlalu begitu saja bersama habisnya bulan Ramadhan, dan
setelah itu ia kembali lagi bermalas-malasan, kembali mendatangi maksiat
seolah-olah ia baru saja dipenjara dengan berbagai macam ketaatan kembalilah ia
terjerumus dalam syahwat dan kelalaian. Kasihan sekali orang-orang seperti ini.
Sesungguhnya kemaksiatan itu adalah sebab dari kehancuran karena dosa adalah ibarat luka-luka, sedang orang yang terlalu banyak lukanya maka ia mendekati
kebinasaan. Banyak sekali kemaksitan-kemaksiatan yang dapat menghalangi seorang
hamba untuk mengucap “La ilaha illallah” ketika sakaratul maut.
Setelah sebulan penuh ia hidup dengan iman, Al-Quran serta amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, tiba-tiba saja ia ulangi perbuatan-perbuatan
maksiatnya di masa lalu. Mereka itulah hamba-hamba musiman mereka tidak mengenal
Allah kecuali hanya pada satu musim saja (yakni Ramadhan), atau hanya ketika di
timpa kesusahan, jika musim atau kesusahan itu telah berlalu maka ketaatannyapun
ikut berlalu.Kelompok yang kedua: Orang yang bersedih ketika berpisah dengan
bulan Ramadhan mereka rasakan nikmatnya kasih dan penjagaan Allah, mereka lalui
dengan penuh kesabaran, mereka sadari hakekat keadaan dirinya, betapa lemah,
betapa hinanya mereka di hadapan Yang Maha Kuasa, mereka berpuasa dengan
sebenar-benarnya, mereka shalat dengan sungguh-sungguh. Perpisahan dengan bulan
Ramadhan membuat mereka sedih, bahkan tak jarang di antara mereka yang
meneteskan air mata.
Apakah keduanya itu sama? Segala puji hanya bagi Allah! Dua golongan ini
tidaklah sama, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Barang siapa berpuasa siang hari di bulan Ramadhan dan shalat di malam harinya, melakukan kewajiban-kewajibannya, menahan pandangan-nya, menjaga anggota badan serta menjaga shalat jum’at dan jama’ah dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan ketaatannya sesuai yang ia mampu maka bolehlah ia berharap
mendapat ridha Allah, kemenangan di Surga dan selamat dari api Neraka. Orang
yang tidak menjadikan ridha Allah sebagai tujuannya maka Allah tidak akan
melihatnya.Jangan seperti orang yang merusak tenunan yang kuat hingga bercerai
berai
Hati-hatilah, jangan seperti seorang wanita yang memintal benang (menenun) dari kain tersebut ia bikin sebuah gamis atau baju. Ketika semuanya telah usai dan
nampak kelihatan indah, maka tiba-tiba saja ia potong kain tersebut dan ia cerai
beraikan, helai-demi helai benang dengan tanpa sebab.
Berhati-hati jualah Anda! jangan sampai seperti seorang yang diberi oleh Allah
keimanan dan Al-Quran namun ia berpaling dari keduanya, dan ia lepaskan keduanya
sebagaimana seekor domba yang dikuliti, akhirnya ia masuk keperngkap syetan
sehingga jadi orang yang merugi, orang yang terjerumus di dalam jurang yang
dalam, menjadi pengikut hawa nafsunya, Naudzu billah mindzalik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita kepada orang yang telah kamu berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian mereka melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syetan sampai ia tergoda, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki sesunguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Tetapi ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannnya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membarrkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpa-maan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka ceritaklah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.“ (Al-A’raaf: 175-176).
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jika anak adam
meninggal maka putus sudah amalnya..” Maka dari sini tiada yang membatasi atau
memutuskan amal ibadah kecuali bila telah datang maut. Jadi meskipun bulan
Ramadhan telah berlalu maka seoarang Mukmin hendaknya jangan berhenti dari
menjalankan puasa, karena masih banyak puasa-puasa yang lain yang di syariatkan
dalam waktu setahun seperti puasa tiga hari dalam tiap bulan, puasa senin kamis,
puasa Arofah dan lain-lain. Demikian juga meskipun qiyam di bulan Ramadhan
(tarawih) telah usai maka seorang mukmin janganlah berhenti dari menjalakan
shalat malam.
Maka hendaklah Anda bersemangat untuk tetap teruskan kontinyu dalam beribadah sesuai dengan kemampuan Anda, dan perlu Anda ketahui beberapa cara untuk tetap berada di atas dinnullah dan ketaatan kepada-Nya:
1. Berdo’a supaya senantiasa tetap diatas agama Allah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak-banyak membaca do’a, dengan sabdaNya: “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati tetapkan-lah hatiku di atas agama-Mu: (HR. At-Tirmidzi 4/390).
2. Sabar, firman Allah (Al-Ankabut: 58-59).
3. Menelusuri jejak orang-orang shaleh, firman Allah (Hud: 120).
4. Dzikrullah dan membaca Al-Quran.
5. Mempelajari ilmu syar’I dan meng-amalkannya, firman Allah (An Nahl: 102).
Terakhir, ketahuilah bahwa termasuk ciptaan Allah adalah Surga, yang jika anda
ingin mendatanginya nampak penuh dengan kesusahan, dan ciptaan Allah yang lain
adalah neraka, yang jika anda mendatanginya terasa sangat menyenangkan. Surga
itu dihijab dengan hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sedangkan neraka
dihijab dengan syahwat dan hal-hal yang menyenangkan. Maka apakah termasuk
orang-orang yang berakal jika seseorang menjual surga dan seisinya dengan
kesenangan yang sesaat.
Jikalau Anda berkata: “Sesungguh-nya meninggalkan syahwat (kesenang-an yang menjerumuskan) itu perkara yang susah dan sulit. Saya (pengarang buku) menjawab:“Sesungguhnya rasa berat itu hanyalah bagi orang-orang yang meninggalkan syahwat bukan karena Allah. Adapun jika anda meninggalkannya secara sungguh-sungguh dan ikhlas, maka tidak akan terasa berat atau susah meninggalkan-nya kecuali pada awal permulaan saja, dan ini untuk menguji apakah benar-benar ingin
meninggalkannnya atau hanya-main-main saja. Jika dalam masa-masa ini mau
bersabar maka anda akan mendapati keutamaan dan kenikmatan dari Allah yang
begitu membahagiakan, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka
Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Sebagai perumpamaan dari hal tersebut, yakni kaum muhajirin yang berhijrah
meninggalkan harta mereka, tanah kelahiran mereka, kerabat dan teman,
semata-mata karena Allah maka akhirnya mengganti dengan rizqi-rizqi luas di
dunia dan di surga.
Nabi Ibrahim alaihis salam ketika pergi meninggalkan kaumnya, bapaknya dan
apa-apa yang mereka sembah selain Allah, akhirnya Allah memberikan putra Ishaq
alaihis salam dan Yakub alaihis salam serta anak turunan yang shaleh, Nabi Yusuf
alaihis salam juga manakala ia bisa menahan nafsu dan menjaganya agar tidak
tergoda rayuan dari majikannya. Dan ia bersabar di dalam penjara, ia lebih suka
kepada penjara tersebut agar menjauhkan diri dari lingkaran kejahatan dan
fitnah. Maka akhirnya Allah mengganti dengan kedudukan yang mulia di muka bumi.
(Sumber; Wa Madza ba’da Ramadhan )

Syukron jazakalloh kepada akhi Iwan Erik atas taujihnya… semoga kita bisa mengambil hikmah dr apa yg beliau sampaikan…

Acara selanjutnya yakni materi inti yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ing. Khafid Beliau menyampaikan materi ttg Esensi Dakwah Ilallah,…

Dakwah adalah usaha terus menerus para da’i (du’aat) yang ditujukan kepada masyarakat yang di dakwahi (mad’uu). Gerakan dakwah secara umum berguna untuk melakukan perobahan melalui konsep terarah. Sasaran dakwah secara hakiki adalah “merubah tatanan dan kebiasaan masyarakat terbelakang (dzulumaat, gelap) kepada tatanan yang lebih maju terang, (an-nuur)”. Sasaran ini akan lebih jelas terlihat dalam pedoman yang diberikan oleh kitab suci Al Quran, diantaranya Surat (2)-Al Baqarah ayat 257; dan juga QS.(5)-Al Maaidah ayat 16, QS.(57)-Al Hadid ayat 9 dan QS.(65)-AthThalaq ayat 11.
Dalam bentuk operasionalnya dakwah memelihara keberadaan, eksistensi manusia yang telah di ciptakan Allah agar selalu melaksanakan tugas mulia dan istimewa sebagai khalifah Allah di permukaan bumi. Upaya dakwah kearah itu tidak boleh berhenti sampai kiamat.
Dakwah ilaa Allah memiliki sisi-sisi mengagumkan, diantaranya dakwah adalah tugas suci (mission sacre) melanjutkan risalah Rasul Allah melalui tabligh (balligh maa unzila ilaika min rabbika), menegakkan kalimat tauhid. Jika dakwah tidak ditunaikan sesuai risalah Islamiah, fa maa ballaghta risaalatahu, pasti akan berjangkit kema’shiyatan dan kekufuran akan menjadi-jadi serta bantuan dari Allah akan terjauh (lihat QS.(5)-Al Maidah ayat 67).
Dakwah menjadi tugas pribadi setiap mukmin. Sasaran yang hendak dicapai dengan kewajiban ini adalah membawa manusia kepada al-khair atau kehidupan yang Islami. Para du’aat dan lembaga dakwah jadinya mengambil peran sebagai meringankan beban pribadi umat yang di bina.
Menjadi kewajiban dakwah untuk menanamkan tanggung jawab timbal balik diantara umat dan pembinanya untuk saling menjaga keberadaan lembaga dakwah dan berkewajiban melahirkan juru dakwah sepanjang masa.
Dakwah memiliki program jelas amar makruf nahi munkar (lihat QS.3:104). Bila amar maruf nahi munkar tidak dilaksanakan terjadi bencana. Rasulullah mencontohkan hidup ini seperti sebuah pelayaran diatas perahu, dengan aturan-aturan yang terang. Tatkala seorang penumpang mencoba melobangi dinding perahu untuk mendapatkan air dengan cepat pada tempat duduknya, jangan dibiarkan saja perbuatan itu. Bila orang tak mau tahu dan bersikap membiarkan perbuatan itu, maka yang akan karam tidak hanya yang melobangi perahu semata, tetapi yang diam melihat (artinya enggan melaksanakan peran amar makruf) akan karam juga (Al Hadist). Dakwah mendapat sanjungan ahsanu qaulan, seruan indah. Ajakannya ditujukan untuk mengajak manusia agar mengikuti perintah Allah, da’aa ilallaah.
Realisasi dari dakwah yang benar senantiasa berbentuk karya nyata, wa ‘amila shalihan atas dasar penyerahan diri sepenuhnya kepada Islam, wa qaala innani minal muslimin, yang terlaksana sebagai bukti ketaatan kepada Khalik.
Yang menjadi ukuran dari amal karya nyata itu adalah tidak menyamaratakan yang baik dan buruk (lihat QS.41-Fush-shilat, ayat 33). Landasan dakwah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul. Sajian dakwah merupakan implementasi dari Dinul Haq, Agama Islam yang dibuktikan pada terjaganya jalinan hubungan vertikal hablum minallah dan hubungan horizontal hablum minan-naas (lihat QS. (3)-Ali Imran ayat 112).
Rangkaian ibadah dari dakwah ilaa Allah sanggup mengetengahkan rekonstruksi alternatif kehidupan duniawi sejalan dengan kehidupan kedepan (ukhrawi) sesuai wahyu Allah. Agama Islam merupakan ajaran yang solid rahmatan lil ‘alamin (lihat QS. (21)-Al Anbiya’, ayat 107). Solidnya ajaran Islam sesuai bimbingan Kitabullah dan sunnah Rasul sebagai agama fithrah yang damai, alamiah insaniyah, sesuai dengan zaman, mengajarkan hidup harmoni berkemampuan tinggi untuk berdampingan secara damai dengan seluruh umat manusia dalam meujudkan kesejahteraan hakiki. Kaedah-kaedah syar’I yang ditampilkan oleh ajaran agama berisikan perhatian mendalam terhadap pemupukan kesejahteraan materiil dan immateriil, baik dalam tatanan kehidupan sosial secara keseluruhan.
Maka ajaran agama selalu menyeru manusia agar hidup secara baik (shalih) baik secara individu, keluarga, kelompok, bangsa bahkan dunia.

Begitulah rangkaian acara demi acara liqo’ pekanan dilalui dengan penuh cinta…. Ada damba dan ada asa… ukhuwah yg senantiasa terbangun menjadi satu tubuh dan satu keluarga… barokallohulakum…
Sebelum acara ditutup maka ditentukan dulu petugas dan tempat liqo’ pekan depan.
Insya Allah utk tempat.. pekan depan di kontrakan akhi Bisma di Kampung Kandang
Petugas…Moderator : Akhi Ari Susanto
Pembaca Kitab Hadits : Akhi Isya
Kultum : Akhi Slamet Turseno

Demikian liputan tematik kajian pekanan cowok bakos class ’07. Dari pojok Biro Renum, reporter bang_mamet melaporkan.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Sunday, October 19, 2008

Bila Ngaji Terasa Nikmat...

aku mengaji
untuk memperbaiki diri
aku mengaji
untuk belajar menghargai
---menghargai diri, ortu, saudara, kerabat, tetangga, guru, dan pemimpin kami---
---menghargai usia, waktu dan pekerjaan kami---
aku mengaji
untuk belajar syukur pada Illahi
aku mengaji
untuk dapat merasakan nikmatnya Iman dan Islam yang hakiki
aku mengaji
untuk bekal di hari nanti
aku mengaji
agar tidak menyesal dihari yang pasti
aku mengaji
agar sampai di Jannah_Nya yang seluas langit dan bumi
aku mengaji
agar bisa melihat wajah_Nya yang elok tak tergambarkan dalam hati
aku mengaji
karena kusadari
hidup tanpa mengaji
bagai jasad tanpa ruh lagi
alias mati…

Alhamdulillah,
makna demi makna dari liqo’ yang diadakan setiap malam jum’at semakin terasa dan semakin dapat kami menikmatinya…
tadi malam (Kamis, 3 April 2008) acara liqo’ atau pengajian pekanan cowok bakos class ’07 terlaksana dengan baik di kontrakan akhi Tommy Nautico di Kampung Kandang…
Hadir dlm liqo’ ini :
• Akhi Tommy Nautico (selaku tuan rumah)
• Akhi Ari Susanto
• Akhi Iwan Erik
• Akhi Slamet Turseno
• Akhi Iman Sadesmesli
• Akhi Erfan Dany
• Akhi Nurman
• Akhi Aldi (PKL)
• Akhi Billy (PKL)
• Kapan yg lainnya nyusul?, kite-kite tunggu loh…!
Acara dimulai sekitar jam delapan malam. Dan tanpa mengurangi makna dan semangat teman2, susunan acara pada liqo’ malam ini ada sedikit pergeseran yakni materi inti didahulukan dari rangkaian acara yang lainnya. Hal ini disebabkan karena murobbi (pembina/ustadz) kami yakni DR. Ing. Khafid (PDKK) harus membagi acara di tempat lain.
untuk liqo’ kali ini, kembali akhi Ari Susanto yang bertugas sebagai moderator…
moderator memulai majelis dengan mengucap hamdalah kepada Allah SWT, shalawat kepada Rasul_Nya dan mengajak kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita…
“…Sebuah kenikmatan yang luar biasa bahwa kita dikumpulkan oleh Allah SWT di majelis yang mulia… taman-taman surga, kata Rasulullah. Kita berkumpul tetapi tidak sekedar berkumpul. Berkumpulnya kita dilandasi oleh spirit yang sama yakni semangat utk memperbaiki diri, mengenal dien/agama ini dg lebih baik lagi, saling nasihat menasihati dan mengeratkan persaudaraan kita selaku ummat Muhammad SAW…” Demikian kurang lebih kalimat pembuka yang disampaikan oleh akhi Ari Susanto…

Acara selanjutnya yakni materi inti yang disampaikan oleh DR. Ing Khafid. Bahasan pd malam ini yakni tentang Zakat Profesi… (materi ini sebenarnya utk memperdalam pertanyaan akhi Iman Sadesmesli pd pertemuan sebelumnya..)
“ …. Suatu harta dikenakan wajib zakat apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
1.Apabila harta itu menjadi miliknya secara penuh, bukan sebagai pinjaman, titipan ataupun gadai
2.Apabila harta itu diinvestasikan (dikembangkan) atau memungkinkan untuk diinvestasikan seperti uang, emas, perak atau surat-surat berharga.
3.Apabila harta itu mencapai nishab zakat (batas minimal kena zakat). Nishab emas, perak, uang, harta bisnis atau yang menyerupainya adalah setara 85 gram (dari emas murni dan 24 karat). Nishab zakat tanaman dan buah-buahan adalah 5 Ausaq (setara 652 kg). Adapun nisab ternak adalah tergantung jenis hewannya (unta dan sejenisnya: 5 ekor, Sapi dan sejenisnya: 30 ekor, domba dan sejenisnya: 40 ekor).
4.Apabila harta tersebut merupakan kelebihan (net income) dari kebutuhan pemilik harta dan orang-orang yang ditanggungnya (seperti anak, istri dan orang tua
yang bergantung pada pemilik harta tersebut) selama setahun. Yang dimaksud kebutuhan di sini adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya secara layak tanpa berlebihan dan pemborosan.
5.Apabila harta tersebut terbebas dari hutang. Apabila harta tersebut mempunyai beban hutang maka kewajiban zakatnya dikenakan setelah dipotong beban hutang.
6.Apabila harta tersebut dimilikinya selama satu tahun Hijriyah (Haul). Apabila kurang dari itu atau pada saat mencapai satu tahun hartanya berkurang dan tidak
mencapai nishab maka ia tidak dikenakan kewajiban zakat. Dan dikecualikan dari kewajiban syarat Haul adalah harta pertanian, buah-buahan dan rikaz (harta
karun), pada harta tersebut diwajiban zakat pada saat panen atau menemukannya.
7.Apabila harta itu diperoleh dengan cara halal dan baik karena Allah tidak menerima harta yang diperoleh dengan cara haram. Adapun harta yang diperoleh dengan haram maka itu harus dikembalikan kepada pemiliknya dan apabila tidak tahu maka sebaiknya diinfaqkan pada fasilitas milik ummah/ umum tanpa memberi tahu statusnya. Dan itu bukan zakat tapi mengembalikan hak orang lain kepada pemilik haknya.

Dari syarat-syarat tadi jelaslah harta mana saja yang harus dikeluarkan zakatnya dan harta mana yang tidak dikenakan kewajiban zakat.
•Adapun dasar hukum zakat profesi adalah sebagai berikut:
Para ulama berbeda pendapat tentang dasar hukum zakat profesi, ada yang mengatakan bahwa dasar hukumnya adalah mal mustafad (pendapatan dari hasil kerja), dan
ada pula yang mengatakan bahwa dasar hukumnya adalah qiyas (dianalogykan) kepada zakat pertanian dan buah-buahan.

Tapi pendapat yang pertama adalah lebih tepat karena lebih sesuai dengan realita dengan dalil-dalil sebagai berikut:
1.Firman Allah:
“ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian yang baik-baik dari hasil usahamu dan hasil-hasil yang kami keluarkan dari bumi” QS. Albaqoroh: 267.

2.Hikmah zakat dimana zakat itu diwajibkan pada orang kaya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: “ zakat itu diambil dari orang kayanya dan dibagikan kepada orang miskinnya” HR. Bukhory dan Muslim.

•Apakah dalam mal mustafad diperlukan syarat haul?

Para ulama juga berbeda pendapat tentang hal ini tapi pendapat yang paling kuat adalah tidak perlunya haul tapi cukup syarat nishab. Artinya bahwa harta itu
dikenakan zakat saat kita menerimanya dengan syarat bila mencapai nishab.

•Ukuran nishabnya: menurut pendapat yang paling kuat adalah sama dengan zakatnya uang yaitu 85g (dari emas murni dan jenis 24 karat).

•Rate (jumlah) zakat yang harus dikeluarkan dari zakat profesi adalah 2,5 % dari harta yang sudah mencapai nishab dalam pendapat yang paling masyhur.

•Cara mengeluarkannya:
1.Bulanan: bagi mereka yang mempunyai gaji besar dan mencapai nishab maka dibolehkan untuk mengeluarkannya setiap bulan setelah dipotong kebutuhan primer.
2.Tahunan: bagi mereka yang mempunyai gaji kecil (tidak mencapai nishab dengan hitungan bulanan) dianjurkan untuk menjumlahkannya dalam waktu setahun kemudian dikurangi kebutuhan primernya selama setahun, maka apabila harta tersebut masih tersisa dan mencapai nishab maka dia wajib mengeluarkan zakat 2.5%.

•Adapun yang dimaksud dengan “tidak mampu” adalah orang yang tidak mencapai pada derajat standar hidup layak. Dan standar hidup layak itu berbeda-beda dari
satu negara ke negara lain. Di Indonesia mungkin disebut orang yang tidak sampai pada standar hidup layak adalah orang yang penghasilannya kurang dari Rp10,000,-/ hari. Berbeda lagi dengan di negara kuwait , bahwa orang yang tidak sampai pada derajat standar hidup layak adalah orang yang hanya memiliki satu mobil dan dua AC. Di Australia mungkin beda lagi. Jadi standar tidak mampu lebih bersifat pada status
ekonomi dan sosialnya, dan itu bersifat kondisional dan berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Dalam konteks zakat, kelompok yang berhak untuk mendapatkan zakat adalah ada delapan kelompok. Dua kelompok pertama mewakili orang yang tidak mampu secara financial, yaitu fakir-miskin, mereka adalah orang yang mempunyai harta tapi tidak mencukupi kebutuhan makan hariannya. Adapun kelompok yang lainnya adalah kelompok yang membutuhkan bantuan karena faktor lainnya seperti faktor hutang, perantauan, perjuangan di jalan Allah, meraih kebebasan atau faktor revolusi ideologi. Adapun kelompok amil mendapatkan zakat adalah karena faktor etos kerja.
Perlu dicatat, bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang kaya (selain amil) dan orang yang kuat dan sehat sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
“Tidaklah sodaqoh (zakat) itu dihalalkan bagi orang kaya dan tidak pula bagi orang sehat dan kuat” HR. Lima Imam hadits dan Imam Turmudzi.

•Bolehkan membayarkan zakat pada kerabat?
Para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan nafaqahnya seperti istri, anak dan orang tua yang menjadi tanggungan anaknya dan sebaliknya bahwa seorang istri boleh memberikan zakatnya pada suaminya yang miskin karena suami itu bukan tanggungjawab istrinya. Tapi para ulama berbeda pendapat tentang memberi zakat pada keluarga atau kerabat. Pendapat yang paling kuat adalah apabila keluarga/kerabat itu diluar tanggung jawabnya maka mereka boleh mendapatkan zakat bahkan dianjurkan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
“Memberi zakat pada orang misikin itu adalah sodaqoh, adapun memberi zakat kepada kerabat miskin adalah sodaqoh dan perekat silarurahmi” HR. Ahmad dll.
Wallahu a’lam bishwab

Reference:
-Yusuf Qordowy, DR. Fiqh Zakat, Muassasah arrisalah,1994.
-Husain Sakhotah, DR. Attathbiq al mu’asir li fiqh zakat, Dar Manar al haditsah, 2003.
….”
Merespon materi yg disampaikan ada dua pertanyaan dari peserta liqo’ yakni dari akhi Iman S dan saya (den bagus slamet). Akh Iman menanyakan seputar lembaga atau badan dimana kita bias membayar zakat sedangkan saya menanyakan tentang fenomena zakat produksi.
Utk pertanyaan pertama, DR. Ing Khafid menjelaskan bhw sebenarnya banyak badan yg bias dipercaya utk penyaluran zakat profesi atau umum semisal BAZIS, LAZ, ZISWAF, PKPU, DPU dll… manfaat penyaluran lewat lembaga resmi yakni lebih meratanya dlm pendistribusian zakat key g berhak menerima shg tdk tjd penumpukan zakat pd hanya segelintir mustahik atau penerima zakat.
Utk pertanyaan kedua, DR. Ing Khafid menjelaskan bhw pendistribusian zakat dg program zakat produksi dimana zakat itu lebih ditekankan sbg modal usaha drpd sekedar utk dikonsumsi adl hasil ijtihad utk menumbuhkan kemandirian para penerima zakat shg mereka bisa keluar dari garis kemiskinan bahkan nantinya bs mjd muzakki atau pembayar zakat. Shg asalkan tdk merugikan mustahik dan tdk keluar dr prinsip2 zakat maka sebenarnya secara hukum itu boleh2 saja.

Oke, terima kasih Tadz…
Selanjutnya moderator meneruskan acara berikutnya, oh yah…DR. Ing Khafid pamit utk pergi ke acara yg lainnya… tetapi ngaji tetap terus berjalan…
Acara berikutnya yakni kultum, kuliah tujuh menit… dan utk malam ini kultum akan disampaikan oleh seorang ustadz muda, jebolan pesantren kilat, yg sudah melalang buana dunia hitam dan sekarang sudah taubat..:-) Beliau adalah Al Ustadz Akhunal Fadhil Tommy Nautico Al Samarangy.
Ustadz muda kita ini dengan penuh semangat bak panglima perang yg ditinggal kabur tentaranya menyampaikan materi tentang Fadhilah Sedekah… Subhanallah…. Begitu mengharukan dan sangat menggugah jiwa , beberapa peserta bahkan menitikkan air mata… hi hi hi….
Beberapa hal penting yg disampaikan…
“ …. Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata Rasulullah SAW, ''Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.'' Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan, ''Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, 'Ya Tuhanku, karuniakanlahganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah'. Yang satu lagi menyeru, 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya'.''

Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

Sedekah memiliki beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya. Pertama, mengundang datangnya rezeki. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Alquran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba−hamba−Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ''Pancinglah rezeki dengan sedekah.'' Kedua, sedekah dapat menolak bala. Rasulullah SAW bersabda, ''Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.''

Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah SAW menganjurkan, ''Obatilah penyakitmu dengan sedekah.'' Keempat, sedekah dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah SAW, ''Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.''

Mengapa semua itu bisa terjadi? Sebab, Allah SWT mencintai orang−orang yang bersedekah. Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).

Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya, masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah? Wallahu a'lam bis−shawab. (Hikmah/Republika) ….”

Acara berikutnya yakni pembacaan kitab kuning… malam ini pembacaan kitab diamanahkan juga kepada ustadz muda yg tidak asing lagi di dunia pemetaan. Seorang mantan konsultan dan sekarang mjd salah satu yg sangat diperhitungkan oleh pejabat-pejabat di Medan Gaya Berat dan Pasang Surut Air Laut. Beliaulah Al Ustadz Akhuna Fadhil Erfan Dhani Al Banyumasy.
Inilah petikan hadits yg disampaikan dg penuh semangat oleh beliau, diambilkan dari kitab berjudul Fiqih Sunnah Bab Zakat karya Sayyid Sabiq.
“Turmudzi meriwayatkan dari Abu Kabsyah al Anmari bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Tiga hal yang saya bersumpah dengannya (= maknanya benar2 akan terjadi), akan saya sampaikan kepadamu maka ingatlah baik-baik yakni tidaklah akan berkurang harta karena disebabkan zakat. Tidaklah seorang hamba didzalim tetapi kemudian sabar menerimanya melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan.”
“Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya Allah SWT menerima zakat dengan tangan kanan_Nya lalu mengasuhnya utk sipemberi zakat sebagaimana seorang mengasuh anak kudanya sehingga sesuap akan menjadi sebesar gunung uhud.”
“Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW,”Ya Rasulullah, bgm pendapat Anda bila seseorang menunaikan zakat hartanya..?” Rasulullah SAW menjawab, “Siapa yang membayarkan zakat hartanya, berarti hilanglah kejelekannya.”

Subhanallah… luar biasa… syukran jazakalloh untuk akhi Erfan tausiahnya… mudah2an Allah ringankan dan mudahkan kita utk mengeluarkan zakat... tidak sekedar zakat fitrah tetapi juga zakat maalnya… amien.

Berikutnya adalah tilawah Al Qur’an yg masing2 peserta membaca setengah halaman dari Al Qur’an standar timur tengah…
Yg lainnya menyimak dg seksama dan membetulkan jika ada bacaan yg kurang pas tajwidnya… acara tilawah ditutup dg sedikit pemahaman ttg tajwid. Bgm hukum idzhar, ikhfa, ra’ tarqiq dan ra’ tafhim, dll

Begitulah rangkaian acara demi acara dilalui dengan penuh cinta…. Apalagi setiap acara dipandu dg sangat cantiknya oleh moderator akhi Ari Susanto.
Sebelum acara ditutup maka ditentukan dulu petugas dan tempat liqo’ pekan depan.
Insya Allah utk tempat.. pekan depan di Wisma Asri Pandawa Lima Pabuaran.
Petugas…Moderator : Akhi Bisma
Pembaca Kitab Hadits : Akhi Iman Sadesmesli
Kultum : Akhi Ari Susanto

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Assalamu'alaikum wr. wb.

Mas Erfan dlm kultumnya meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ada tujuh indikator kebahagiaan dunia yakni :
1. Qalbun Syakirun (Hati yg senantiasa bersyukur atas sgl nikmat Allah SWT)
2. Al Azwajush Sholihah (Istri/pendamping hidup yg sholihah)
3. Al Auladun Abror (Anak yg sholih)
4. Al Bi'atush Sholihah (Lingkungan yg sholih)
5. Al Maal (Harta yg halal)
6. Tafaquh Fiddin (Semangat menuntut ilmu/mengaji)
7. Umur yg barokah
Alhamdulillah mudah2an qt bisa meraih dan merengkuh ketujuh-tujuhnya Amien.

Berikutnya Mas Tommy Nautico membacakan sebuah Kitab Hadits Bulughul Maram bab Thaharah (bersuci). Mas Tommy menjelaskan tentang kesucian air laut dan apa yg ada di dalamnya.

Semuanya dirangkai secara cantik dan menarik oleh moderator Ari Sutanto.

Begitulah gambaran sekilas tentang liqo' cowok bakos class 07 yg diadakan sepekan sekali setiap malam jum'at di Pabuaran. Qita belajar membaca Al Qur'an, Qt belajar menyampaikan nasihat melalui kultum, qt belajar fiqih melalui pembacaan kitab hadits, qt belajar mengelola dan memanajemen acara melalui penugasan sbg moderator serta qt belajar menjadi santri dg mendengarkan taujih atau materi dari murobbi/pembina qita.

Ringkasnya jalannya acara adl sbb :
• pembukaan (oleh moderator)
• tilawah al qur'an (bergantian, setengah2 halaman)
• pembacaan kitab hadits (bergantian tiap pekan)
• kultum (bergantian tiap pekan)
• materi inti (oleh murobbi/pembina)
• diskusi
• penutup

Insya Allah banyak manfaat yg qita rasakan mll kegiatan liqo' yg diikuti oleh 9 orang ini (Slamet Al Purbalinggay, Erfan Al Banyumasy, Iwan Al Damaky, Nurman Al Sidoarjoy, Iman Al Falambangy, Bisma Al Majalengkay, Ari Al Jogjay, Tommy Al Samarangy, Yanuar Al Tegaly). Dan Insya Allah akan segera menyusul yg lainnya...

wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Thursday, October 16, 2008

Kampung Kandang... A Memorable of Experience

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, setelah dua pekan tidak bertemu di majelis liqo’at, kamis sore kemarin kerinduan bertemu saudara di majelis yg diberkahi terlaksana juga. Dalam suasana Syawalan paska Ramadhan yg sangat damai dan sejuk utk beribadah, suasana saling nasihat menasihati dan saling memberi semangat… sangat kuat terasa di dada. Meski sempat diguyur hujan lebat dan petir yang menyambar-nyambar menggetarkan jiwa, namun tidak menyurutkan langkah-langkah Para Pencari Tuhan…

Hadir dlm liqo’ kemarin di kontrakan Ari di Kampung Kandang (16 Oktober 2009) akhi-akhi kita :

1. Slamet Turseno

2. Erfan Dany

3. Tomy Nautico

4. Bisma

5. Muh. Nurman

6. Ari Susanto

7. Dany Hidayana

Untuk liqo’ kali ini, yang bertugas sebagai moderator adalah akhi Slamet…

Moderator memulai majelis dengan mengucap hamdalah kepada Allah SWT, shalawat kepada Rasul_Nya dan mengajak kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita…

Acara pertama adalah tilawah Al Qur’an yg masing2 peserta membaca setengah halaman dari Al Qur’an …

Yg lainnya menyimak dg seksama dan membetulkan jika ada bacaan yg kurang pas tajwidnya… acara tilawah ditutup dg sedikit pemahaman ttg tajwid. Kali ini pembahasan tentang hokum waqof…

Selanjutnya moderator meneruskan acara berikutnya, yakni KULTUM.

Pada sore hari kemarin, kultum disampaikan oleh akhi Ari Susanto. Beliau menyampaikan tentang Pembuktian Setelah Ramadhan...

Selengkapnya...
”...Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang hari dan bertaraweh pada malam hari.
Bulan yang kaum muslimin isi dengan amal-amalan ketaatan. Belum lama berlalu, kaum muslimin berada dalam bulan yang penuh barakah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya dan bertaraweh pada malam harinya. Bulan yang kaum muslimin isi dengan amal-amalan ketaatan.

Kini, bulan itu telah meninggalkan kita. Ia akan menjadi saksi dihadapan Allah swt atas segala yang telah kita perbuat pada bulan tersebut. Segala perbuatan, baik yang berupa amal ketaatan maupun kemaksiatan yang telah dilakukan. Naka sudah tidak tersisa dari bulan tersebut kecuali catatan amal yang akan diperlihatkan kepada kita pada hari akhir nanti. Firman Allah swt :

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 30)

Ibarat seoerang pedagang yang telah selesai melakukan perniagaan, maka ia tentunya akan menghitung, berapa keuntungan atau kerugian yang ia dapatkan. Begitu pula kiranya yang harus dilakukan oleh kaum muslimin, orang-orang yang beriman kepada hari akhir selepas bulan Ramadhan.

Allah swt telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dengan berpuasa dan sholat taraweh karena iman dan mengharapkan ganjaran darinya. Dan pada bulan tersebut, Allah swt bebaskan orang-orang yang berhak untuk disiksa sehungga ia bebas darinya. Yaitu bagi mereka yang bertaubat kepadanya dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi kaum yang berfikir bermuhasabah terhadap dirinya; sudahkah bulan tersebut dijadikan saat untuk bertaubat kepada-Nya? Ataukah kemaksiatan masih berlanjut pada bulan yang penuh ampunan tersebut? Jika demikian halnya ia terancam dengan sabda Rasululah saw :

Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.”(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi beliau mengatakan hadits hasan gharib)

Namun, bukan berate sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena ampunan-Nya tidaklah di bulan Ramadhan saja. Bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan bertaubat masih terbuka lebar. Meskipun bukan beraarti seseorang boleh menunda-nundanya. Semestinyalah ia segera melakukannya. Karena kematian bisa datang dengan tiba- tiba dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui kapan waktu kematiannya, maka haruslah difahami pula bahwa taubat adalah pertolongan dan taufiq dari Allah swt. Sehingga tidak bisa seseorang memastikan dirinya akan mampu bertaubat sebelum ajal menjalaninya.

Seperti Abu Thalib, paman Nabi saw. Ia tidak bisa bertaubat di akhir hayatnya, padahal yang mengingatkannya adalah manusia terbaik di seluruh dunia yaitu Muhammad saw. Oleh karenanya bersegeralah senantiasa bertaubat atas segala dosa yang telah dilakukan sehingga kita dibersihkan kembali oleh-Nya. Firman Allah swt :

Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami sediakan siksa yang pedih. (QS.An-Nisa : 17-18)

Adapun yang telah memanfaatkan Ramadhan dengan amal sholeh, sudah selaknyalah bersyukur kepada Allah swt dan bermohon diberikan keistiqamahan untuk melanggengkan amalan tersebut. Dan, tidak selayaknyalah kita berbangga diri atas banyaknya amalan yang telah kita lakukan bahkan merasa sebagai orang yang paling hebat. Karena kita tidak mengetahui apakah amal sholeh kita itu diterima ataukah tidak oleh Allah swt. Selain itu, tidaklah kita mampu menunaikan ibadah ketaatan kepada-Nya kecuali atas pertolongan dari-Nya.

Bahkan, apabila kita menghitung segala rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan merasa cukup dengan amalan-amalan kebaikan yang telah dilakukan, sungguh tidaklah setara. Selayaknyalah sebagai seorang abid berlaku tawadlu dan tidak merasa paling baik. Karena itulah sifat-sifat seorang yang beriman, yaitu ia dengan sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya namun senantiasa merasa takut kepada Allah swt akan kekurangan dirinya dalam beramal. Firman Allah Swt :

Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (QS. Al-Mu’minun : 60)

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah swt, ketahuilah bahwa Allah swt yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmatnya tidaklah terputus dan berhenti dengan berlalunya bulan Ramadhan. Maka, doa yang senantiasa dipanjatkan kepada-Nya di bulan Ramadhan janganlah kita tinggalkan selepasnya. Begitu pula , tilawah al-Qur’an yang senantiasa kita lakukan pada bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Bahkan ibadah puasa pun semestinya kita lakukan meskipun diluar bulan tersebut. Karena masih banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang besar bagi orang yang melaksanakannya. Begitu juga dengan sholat malam, adalah amalan yang harus kita pertahankan, meskipun hanya mampu beberapa rakaat saja. Terjaganya shalat malam adalah salah satu sifat wali-wali Allah swt. Sebagaimana firmannya:

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan. (QS.As-Sajdah : 16)

Juga, bersemangatlah menjadi bagian pengemban dakwah, menyeru manusia untuk kembali kepada Islam, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah perkara yang munkar, karena jalan itulah yang akan menjadikan kita sebagai orang yang diberikan keberuntungan oleh-Nya. Sebagaimana firmannya

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.Ali Imran : 104).

Terakhir, semoga amalan kita diterima Allah swt dan diberikan kekuatan untuk melanggengkan dan meningkatkannya di bulan-bulan yang akan datang . Dan mudah-mudahan Allah swt mengampuni segala kesalahan kita.

[Ibnu Khaldun Aljabari, Syawal,5, 1429 H]

Acara selanjutnya yakni mengkaji kitab kuning… malam ini pembacaan kitab hadits diamanahkan kepada akhi Bisma… diambilkan dari kitab berjudul Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al ‘Asqolani.

Beliau menerangkan tentang Bab Waktu Sholat.

Selengkapnya klik http://rukyatulhilal.org/jadwalshalat.html.

Acara selanjutnya yakni materi inti yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ing. Khafid, beliau mengupas panjang lebar tentang waktu sholat. Kebetulan beliau adalah anggota tim ru’yatul hilal nasional Dep. Agama. Setelah itu materi dilanjutkan dengan materi urgensi tarbiyah...

Tarbiyah, Sebuah Proses Pembentukan

Tarbiyah… sebenarnya apa tujuan dari tarbiyah itu? Baik murobbi maupun mutarobbi seharusnya paham akan tujuan tarbiyah sehingga tarbiyah tidak hanya sekedar rutinitas tapi ada target atau tujuan yang dicapai.

Pengertian Tarbiyah secara bahasa tansyiah (pembentukan), riayah (pemeliharaan), tanmiyah (pengembangan), dan taujih (pengarahan)
Maka proses tarbiyah yang kita lakukan dengan menggunakan sarana dan media bermacam-macam, seperti halaqah, tatsqif, ta’lim fil masjid, mukhoyyam, lailatul katibah dan lainnya harus memperhatikan empat hal di atas sebagai langkah-langkah praktis untuk sampai pada tujuan strategis, yaitu terbentuknya pribadi muslim atau shalih mushlih.

1.Tansyi’ah (Pembentukan)

Dalam proses tansyi’ah harus memperhatikan tiga sisi penting, yaitu:
a. Pembentukan ruhiyah ma’nawiyah

Pembentukan ruhiyah ma’nawiyah dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan ibadah seperti qiyamul lail, shaum sunnaah, tilawah Qur’an, dzikir, dan lain-lain. Para murabbi harus mampu menjadikan sarana-sarana tarbiyah ruhiyah semisal mabit, lailatul katibah, jalasah ruhiyah, dalam membentuk pribadi mutarobbi pada sisi ruhiyah ma’nawiyahnya dirasakan serta disadari oleh mutarobbi bahwa ia sedang menjalani proses pembentukan ma’nawiyah ruhiyah. Jangan sampai mabit hanya untuk mabit.

b. Pembentukan fikriyah tsaqafiyah

Sarana dan media tarbiyah tsaqofah harus dijadikan sebagai sarana dan media yang dapat membentuk peserta tarbiyah pada sisi fikriyah tsaqafiyah, jangan sampai tatsqif untuk tatsqif dan ta’lim untuk ta’lim, tetapi harus jelas tujuannya bahwa tatsqif untuk pembentukan tasaqofah yang benar dan utuh, ta’lim untuk tsaqofah fid dien dan ini harus disadari dan dirasakan oleh murabbi dan mutarobbi.

c. Amaliyah harakiyah

Proses tarbiyah selain bertujuan membentuk pribadi dari sisi ruhiyah ma’nawiyah dan fikriyah tsaqafiyah juga bertujuan membentuk amaliyah harakiyah yang harus dilakukan secaa bebarengan dan berkisanambungan seperti kewajiban rekruitmen dengan da’wah fardiyah, da’wah amah dan bentuk-bentuk nayrud tarbiyah lainnya, serta pengelolaan halaqoh tarbiyah yang baru sehingga sisi ruhiyah ma’nawiyah dan fikriyah tsaqofiyah teraktualisasi dan terformulasikan dalam bentuk amal nyata dan kegiatan riil serta dirasakan oleh lingkungan dari masyarakat luas.

2.Ar-Riayah (Pemeliharaan)

Kepribadian Islami yang sudah atau muai terbentuk harus dijaga dan dipelihara ma’nawiyah, fikriyah tsaqofiyah dan amaliyahnya dan ditaqwin (dievaluasi) sehingga jangan sampai ada yang berkurang, menurun atau melemah. Dengan demikian kualitas dan kuantitas ibadah ritual, wawasan konseptual, fikrah dan harakah tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Tidak ada penurunan dalan tilawah yaumiyah, qiyamul lail, shaum sunnah, baca buku, tatsqif, liqoat tarbiyah dan aktifitas da’wah serta pembinaan kader.

3. At-Tanmiyah (Pengembangan)

Dalam proses tarbiyah, murabbi dan mutarobbi tidak boleh puas dengan apa yang ada dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, apalagi menganggap sudah sempurna. Murobbi dan mutarrobbi yang baik adalah murobbi dan mutaroobi yang selalu memperbaiki kekurangan dan kelemahan serta meningkatkan kualitas, berpandangan jauh ke depan, bahwa tarbiyah harus siap dan mampu menawarkan konsep perubahan dan dapat mengajukan solusi dan berbagai permasalahan umat dan berani tampil memimpin umat. Oleh karenanya kualitas diri dan jama’ah merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan dalam proses tarbiyah.

4.At-Taujjh (Pengarahan) dan At-Tauzif (Pemberdayaan)

Tarbiyah tidak hanya bertujuan untuk melahirkan manusia yang baik dan berkualitas secara pribadi namun harus mampu memberdayakan dan kualitas diri untuk menjadi unsure perubahan yang aktif dan produktif (Al muslim as shalih al mushlih).

Murobbi dapat mengarahkan, memfungsikan dan memberdayakan mutarobbinya sesuai dengan bidang dan kapasitasnya. Mutarobbi siap untuk diarahkan, ditugaskan, ditempatkan dan difungsikan, sehingga dapat memberikan kontribusi riil untuk da’wah, jama’ah dan umat, tidak ragu berjuang dan berkorban demi tegaknya dienul Islam.

“Dan di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menjadi apa yang mereka telah janjikan kepada Allah, maka di anatra mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya (QS….)

Indikasi keberhasilan tarbiyah bisa dilihat pada peran dan kontribusi kader dalam penyebaran fikrah, pembentukan masyarakat Islam, memerangi kemungkaran, memberantas kerusakan dan mampu mengarahkan dan membimbing umat ke jalan Allah. Serta dalam keadaan siap menghadapi segala bentuk kebatilan yang menghadang lajunya da’wah Islam

“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. 9:111)

Semoga Allah selalu bersama kita dan kemenangan memilih kepada kita.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad:7)

Begitulah rangkaian acara demi acara dilalui dengan penuh cinta….

Ketika Cinta Bertasbih, maka duri jadi mawar, cuka jadi anggur, sedih jadi riang dan amarah jadi ramah…

Sebelum acara ditutup maka ditentukan dulu petugas dan tempat liqo’ pekan depan.

Insya Allah utk tempat.. pekan depan di Pabuaran, Wisma Asri Empat Sekawan.

Petugas…Moderator : Akhi Iman

Pembaca Kitab Hadits : Akhi Isya

Kultum : Akhi Iwan

Demikian liputan tematik kajian pekanan cowok bakos class ’07. Dari pojok Biro Renum, reporter bang_mamet melaporkan.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

MUAMALAH : HUTANG-PIUTANG

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Allahuma baariklana fi Rajaba wa Sya'ban wa balighnaa Ramadhan

“... Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan...”

Wahai akhi dan ukhti, aroma Ramadhan… semakin harum menusuk jiwa yg rindu dg perjumpaannya… di hari ke-22 ini, seakan Ramadhan telah menyeru kita dg panggilan penuh kecintaan…”Wahai Umat Muhammad, aku hampir sampai, sudahkah kau siapkan singgasana hati utk ku… sudahkah kau gelar permadani cinta utk menyambutku… Duhai, jiwa yg lemah, sungguh merugi jika kau sia-siakan aku...”

Ikhwati fillah, dlm salah satu ayat_Nya Allah SWT bertanya kpd kita,” Siapakah yg lebih baik perkataannya drpd orang yg menyeru manusia kepada_Nya…?” Pertanyaan Allah tadi adl bentuk kemuliaan dan kecintaan Allah kpd manusia yg mau peduli dg keadaan saudaranya…

Insya Allah menyambut seruan Allah SWT tadi, kami akan mencoba istiqomah meng-up load hasil kajian tiap hari Kamis. Saran dan masukan yg membangun tentunya adl amal mulia yg sangat besar nilainya di sisi Allah SWT, sehingga kami sangat terbuka dg segala kritik dan saran dr temen2 semua…

Saudaraku yg dimuliakan Allah, pelaksanaan liqo’ kemarin sore (Kamis, 24 Juli 2008) di selenggarakan di kontrakan Tomy Nautico di Kampung Kandang dan dimulai sekitar jam 16.40, …

Hadir dlm liqo’ ini akhi-akhi kita :

1. Iwan Erik

2. Slamet Turseno

3. Iman Sadesmesli

4. Erfan Dany

5. Tomy Nautico

6. Ari Susanto

7. Bisma

8. Dany Hidayana

Akhunal kiroom, akhi Muh. Nurman tidak bisa hadir. karena sedang tugas lapangan ke Kutai Timur, semoga Allah mudahkan urusannya, and gak lupa bwa oleh-oleh… Amin

Ahlan wa Sahlan, Selamat Datang dan Selamat Bergabung utk Mas Dany H, semoga Allah SWT istiqomahkan kita dlm upaya memperbaiki diri dan tazqiyatun nafsi.

Untuk liqo’ kali ini, yang bertugas sebagai moderator adalah akhi Bisma…

Moderator memulai majelis dengan mengucap hamdalah kepada Allah SWT, shalawat kepada Rasul_Nya dan mengajak kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita…

Acara pertama adalah tilawah Al Qur’an yg masing2 peserta membaca setengah halaman dari Al Qur’an …

Yg lainnya menyimak dg seksama dan membetulkan jika ada bacaan yg kurang pas tajwidnya… acara tilawah ditutup dg sedikit pemahaman ttg tajwid.

Acara selanjutnya yakni mengkaji kitab kuning… malam ini pembacaan kitab hadits diamanahkan kepada akhi Iman Sadesmesli,

Beliau menyampaikan Bab Adab Seorang Muslim di Kamar Mandi sesuai sunnah Nabi SAW yg termaktub dlm Kitab Zaadul Ma’ad karya Al Zaujiyyah…

Di antara keagungan syariat Islam yang penuh berkah ini adalah tidak tersisa satu kebaikan pun, besar maupun kecil, kecuali telah diperintahkan dan dianjurkan oleh syariat. Dan tidak ada satupun keburukan, yang besar maupun kecil, kecuali dilarang olehnya.

Sungguh sebuah syariat yang maha komplit dan indah dari segala segi. Hal itu membuat takjub orang-orang non muslim terhadap Dien ini. Hingga salah seorang kaum musyrikin berkata kepada Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'Anhu:

"Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatunya hingga masalah khira'ah (adab buang hajat)." Salman pun berkata: "Benar katamu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil."
(H.R At-Tirmidzi no:16, ia berkata: Hadits ini hasan shahih, diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam shahihnya dan imam-imam lainnya)

Syariat Islam mengajarkan beberapa adab-adab dan hukum-hukum yang mesti diperhatikan saat buang hajat, di antaranya:

1-Tidak menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil (kiblat kaum muslimin adalah Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam di Makkah atas perintah Allah). Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kiblat dan bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah.

2-Tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat buang air kecil.

3-Janganlah ia menghilangkan najis dengan tangan kanan, namun gunakanlah tangan kiri

4-Menurut Sunnah Nabi, hendaklah berusaha duduk serendah mungkin saat membuang hajat. Cara seperti itulah yang lebih menutupi aurat dan lebih aman dari percikan air seni yang dapat mengotori badan dan pakaiannya. Dan boleh membuang hajat sambil berdiri jika aman dari percikan air seni.

5-Menutup diri dari pandangan orang saat buang hajat. Penghalang yang paling sering digunakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika buang hajat adalah dinding atau pagar kebun kurma (yakni dibalik tanah tinggi atau dinding kebun kurma).
(H.R Muslim 517)

6-Tidak membuka auratnya kecuali setelah tiba di tempat buang air. Sebab tempat buang air tentunya lebih tertutup.

7-Di antara adab-adab yang dituntunkan oleh Syariat Islam kepada kaum muslimin adalah membaca zikir-zikir tertentu ketika memasuki WC dan keluar darinya. Adab ini sangat sesuai dengan kondisi dan tempat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita doa ketika masuk ke dalam WC:

"Bismillah, Allahumma inni a'uudzubika minal khubutsi wal khabaaits"

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala gangguan setan laki-laki maupun perempuan.

Ketika keluar dari WC kita dianjurkan meminta ampun kepada Allah dengan mengucapkan:

'Ghufraanaka' Artinya: "Aku meminta ampun kepada-Mu!"

8-Bersungguh-sungguh menghilangkan najis setelah selesai buang hajat, berdasarkan sabda Rasulullah yang memberi peringatan keras terhadap orang-orang yang menganggap remeh perkara bersuci ini. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Mayoritas siksa kubur itu akibat tidak membersihkan air seni" (H.R Ibnu Majah no: 342

9-Hendaklah mencuci kemaluan atau dubur sekurang-kurangnya tiga kali atau ganjil sampai bersih sesuai dengan kebutuhan.

10-Tidak beristijmar (bersuci dengan cara mengusap) dengan menggunakan tulang dan rauts (kotoran hewan yang telah mengering). Akan tetapi gunakanlah saputangan, batu dan sejenisnya.

11-Dilarang buang air pada air yang tergenang (tidak mengalir).

12-Dilarang buang air di jalan dan di tempat orang-orang berteduh, sebab hal itu dapat mengganggu mereka.

13-Dilarang mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang hajat dan dilarang menjawab salam sementara ia berada di tempat buang hajat. Sebagai bentuk pengagungan kepada Allah agar namaNya tidak disebut di tempat-tempat kotor. Jumhur ulama berpendapat makruh berbicara di dalam WC tanpa keperluan.

Itulah beberapa adab dan aspek hukum dalam syariat Islam berkenaan dengan permasalahan yang dilakukan orang setiap hari.

Selanjutnya moderator meneruskan acara berikutnya, yakni KULTUM. Pada mlm hari ini, kultum disampaikan oleh akhi Iwan Erik. Beliau menyampaikan tentang Mensikapi Sebuah Kemunkaran

…Termasuk dari prinsip ‘aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Bahwa mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (amar ma’ruf wa nahi munkar).

Ada beberapa syarat dalam merubah kemunkaran, di antaranya:

1.Orang yang melarang dari perbuatan kemungkaran harus mengetahui terhadap apa yang dicegahnya.

2.Agar meneliti lebih lanjut (agar pasti) bahwa perbuatan ma’ruf telah ditinggalkan sedang kemungkaran dipraktekkan.

3.Tidak merubah kemungkaran dengan kemungkaran lain.

4.Hendaknya jangan menyebabkan berubahnya kemungkaran yang kecil kepada kemungkaran yang lebih besar).

Amar ma’ruf adalah kewajiban sesuai dengan kondisi, dan kemaslahatan dipertimbangkan dalam hal itu. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah ....”(Ali Imran:110)

Nabi saw bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu pula maka dengan hatinya; yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mendahulukan dakwah dengan cara yang lembut, baik berupa perintah maupun larangan, dan menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Allah Ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan rabb mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik ...” (An-Nahl : 125).

Mereka memandang wajibnya bersabar bersabar atas semua gangguan manusia dalam amar ma’ruf nahi munkar, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “....... Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungghnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman : 17).

Ahlus Sunnah, ketika menjalankan amar ma’ruf nahi dan nahi munkar merekapun konsisten dengan prinsip lain yaitu menjaga kesatuan jama’ah, menarik dan mempersatukan hati serta menjauhkan perselisihan dan perbedaan.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah : Memandang perlunya nasehat-nasehati bagi setiap muslim dan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Nabi saw bersabda, “Agama itu adalah itu nasehat “Kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapakah nasehat tersebut ? Beliau menjawab “ Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan ummat manusia” (HR. Muslim)

Ahlus sunnah wal Jama’ah senantiasa menjaga untuk tetap menegakkan syiar-syiar Islam seperti mendirikan shalat Juma’at, shalat jama’ah, haji, jihad dan merayakan hari lebaran (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama para pemimpin yang baik

Mereka bergegas dalam mendirikan shalat yang fardhu dan pelaksanaanya tepat diawal waktunya dengan berjama’ah. Awal waktu shalat tentu lebih baik daripada akhirnya. Dan menyuruh agar khusyu’ dan thuma’ninah dalam shalat; berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al-Mukminuun : 1-2).

Mereka saling menasehati untuk mendirikan shalat malam, karena ini dari petunjuk Nabi saw dan bahkan Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya saw agar mendirikan shalat malam dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Nya. ”

syukron jazakalloh utk akh Iwan Erik, semoga kita bs mengambil manfaatnya… Amin.

Selanjutnya adlah materi inti yg disampaikan oleh Ustadz Dr. Ing Khafid, Beliau menguraikan tentang MUAMALAH yakni berkaitan dg interaksi/hubungan sesama manusia terutama soal HUTANG-PIUTANG… agar kita tidak terjebak dr hutang yg membinasakan, selamat menyimak…

“…Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke neraka.

Islam memuji pedagang yang menjual barang kepada orang yang tidak mampu membayar tunai, lalu memberi tempo, membolehkan pembelinya berutang. Islam menjanjikan pedagang itu berpotensi masuk surga, sebagaimana hadits Rasulullah saw: “Bahwasanya ada seseorang yang meninggal dunia lalu dia masuk surga, dan ditanyakanlah kepadanya, ‘amal apakah yang dahulu kamu kerjakan?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya dahulu saya berjualan. Saya memberi tempo (berutang) kepada orang yang dalam kesulitan, dan saya memaafkan terhadap mata uang atau uang.” (HR. Muslim)

Menurut ulama pensyarah hadits, kata-kata “memaafkan terhadap mata uang atau uang” di situ adalah, bahwa yang bersangkutan memberikan kemurahan kepada pengutang dalam membayar utangnya. Bila terdapat sedikit kekurangan pembayaran dari yang semestinya, kekurangan itu di abaikan dengan hati lapang.

Keutamaan/fadhilah bagi pemberi utang:

  • Siapa yang memberi pinjaman atas kesusahan orang lain, maka dia ditempatkan di bawah naungan singgasana Allah pada hari kiamat. (HR. Thabrani, Ibnu Majah, Baihaqi)
  • Barangsiapa meminjamkan (harta) kepada orang lain, maka pahala shadaqah akan terus mengalir kepadanya setiap hari dengan jumlah sebanyak yang dipinjamkan, sampai pinjaman tersebut dikembalikan. (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah). Contohnya, si Fulan meminjam uang sebesar Rp. 1.000 kepada Fulanah. Fulanah akan mengembalikan uang tersebut dalam tempo 10 hari. Maka selama sepuluh hari itu si Fulan mendapatkan pahala shadaqah Rp. 1.000 setiap harinya.
  • Dua kali memberikan pinjaman, sama derajatnya dengan sekali bershadaqah. (HR. Bukhari, Muslim, Thabrani, Baihaqi).

Menghindari Utang

Sebaliknya, Islam menyuruh pembeli menghindari utang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai. Karena utang, menurut Rasulullah SAW, penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Utang juga dapat membahayakan akhlaq, kata Rasulullah, “Sesungguhnya seseorang apabila berutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).

Rasulullah pernah menolak menshalatkan jenazah sesorang yang diketahui masih meninggalkan utang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Sabda Rasulullah, “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali utangnya.” (HR. Muslim).

Bagaimana Islam mengatur berutang-piutang yang membawa pelakunya ke surga dan menghindarkan dari api neraka ? Perhatikanlah adab-adabnya di bawah ini:

Adab Umum

  • Agama membolehkan adanya utang-piutang, untuk tujuan kebaikan. Tidak dibenarkan meminjam atau memberi pinjaman untuk keperluan maksiat. (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Hakim)
  • Pembayaran tidak boleh melebihi jumlah pinjaman. Selisih pembayaran dan pinjaman dan pengembalian adalah riba. Jika pinjam uang sejuta, kembalinya pun sejuta, tidak boleh lebih. Boleh ada kelebihan pembayaran, berubah hadiah, asal tidak diakadkan sebelumnya. (HR. Bukhari, Muslim, Abdur Razak).
  • Jangan ada syarat lain dalam utang-piutang kecuali (waktu) pembayarannya. (HR. Ahmad, Nasa’i).

Adab untuk pemberi utang

  • Sebaiknya memberi tempo pembayaran kepada yang meminjam agar ada kemudahan untuk membayar. (HR. Muslim, Ahmad).
  • Jangan menagih sebelum waktu pembayaran yang sudah ditentukan. (HR. Ahmad)
  • Hendaknya menagih dengan sikap yang lembut penuh maaf. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi).
  • Boleh menyuruh orang lain untuk menagih utang, tetapi terlebih dahulu diberi nasihat agar bersikap baik, lembut dan penuh pemaaf kepada orang yang akan ditagih. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Hakim).

Adab bagi pengutang

  • Sebaik-baik orang adalah yang mudah dalam membayar utang (tidak menunda-nunda). (HR. Bukhari, Nasa’i, Ibnu Majah, Tirmidzi).
  • Yang berutang hendaknya berniat sungguh-sungguh untuk membayar. (HR. Bukhari, Muslim)
  • Menunda-nunda utang padahal mampu adalah kezaliman. (HR. Thabrani, Abu Dawud).
  • Barangsiapa menunda-nunda pembayaran utang, padahal ia mampu membayarnya, maka bertambah satu dosa baginya setiap hari. (HR. Baihaqi).
  • Bagi yang memiliki utang dan ia belum mampu membayarnya, dianjurkan banyak-banyak berdoa kepada Allah agar dibebaskan dari utang, serta banyak-banyak membaca surat Ali Imran ayat 26. (HR. Baihaqi)
  • Disunnahkan agar segera mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) setelah dapat membayar utang. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad).

Bila ada orang yang masuk surga karena piutang, kelak akan ada juga orang yang kehabisan amal baik dan akan masuk neraka karena lalai membayar utang. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa (yang berutang) di dalam hatinya tidak ada niat untuk membayar utangnya, maka pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi piutang. Jika masih belum terpenuhi, maka dosa-dosa yang memberi utang akan dialihkan kepada orang yang berutang.” (HR. Baihaqi, Thabrani, Hakim).

Syukron Ustadz, atas taujihnya semoga kita bisa mengambil manfaatnya Amin…

Begitulah rangkaian acara demi acara dilalui dengan penuh cinta….

Sebelum acara ditutup maka ditentukan dulu petugas dan tempat liqo’ pekan depan.

Insya Allah utk tempat.. pekan depan di Rumah Akh Bisma di Kampung Kandang

Waktu : Jam 16.30 WIB (Waktu Insan Beriman)

Petugas…Moderator : Akhi tomy Nautico

Pembaca Kitab Hadits : Akhi Ari Susanto

Kultum : Akhi Iman Sadesmesli

Demikian liputan tematik kajian pekanan cowok bakos class ’07. Dari pojok Biro Renum, reporter bang_mamet melaporkan.

Wassalamu’alaikum wr. wb.