Thursday, October 23, 2008

Indahnya Cinta di Bawah Guyuran Air Hujan...

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Oktober bulan penghujan, tiada hari kecuali air mengguyur hati yang kering dengan siraman rahmat_Nya… terkadang manusia lalai mensyukurinya, sehingga rahmatpun dipandang laknat…
Dengan hati yg insya Allah selalu berusaha basah dg kalimat thayibah, setitik azzam, tekad yg membara utk memperbaiki diri, bersama kafilah dakwah… kajian pekananpun alhamdulillah tiada pernah kita tinggalkan…
Saudaraku yg dimuliakan Allah, liqo’ kemarin sore (23 Oktober 2008) dilaksanakan di Masjid Al Idrisi dlm suasana yg ceria, diliputi ukhuwah dan penuh cinta…bunyi hujan yg turun rintik2 seolah lantunan do’a alam bagi insan yg sedang mantafakuri ayat-ayat_Nya… subhanallah…
Hadir dlm liqo’ ini akhi-akhi kita :
 Ari Susanto
 Slamet Turseno
 Iman Sadesmesli
 Iwan Erik
 Bisma
 Tommy Nautico
Semoga Allah istiqomahkan kita dlm upaya memperbaiki diri… Erfan dan Nurman ijin gak bias datneg krn sedang tugas ke lapangan. Oh ya, beliau2 minta do’anya agar Allah mudahkan urusannya dan lindungi keselamatannya. Amin.

Ocre, liqo’ pekan ini dimulai jam 16.40. Pada liqo’ kali ini, yang bertugas sebagai moderator adalah akhi Iman Sadesmesli…
Moderator memulai majelis dengan mengucap hamdalah kepada Allah SWT, shalawat kepada Rasul_Nya dan mengajak kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita…

Acara pertama adalah tilawah Al Qur’an yg masing2 peserta membaca setengah halaman dari Al Qur’an …
Yg lainnya menyimak dg seksama dan membetulkan jika ada bacaan yg kurang pas tajwidnya… acara tilawah ditutup dg sedikit pemahaman ttg tajwid.
Acara selanjutnya yakni mengkaji kitab kuning… malam ini pembacaan kitab hadits diamanahkan kepada akhi Tomy Nautico… diambilkan dari kitab berjudul Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al ‘Asqolani.
Beliau menerangkan tentang bab Adzan. Penjelasan lebih detail tentang sejarah adzan, sebagai berikut :
…Saat itu Islam telah mantap di Yastrib. Shalat lima kali sehari secara teratur didirikan secara berjamaah. Ketika waktu shalat tiba, masyarakat akan berkumpul di tempat mesjid yang sedang dibangun. Masing-msing menentukan waktu dengan melihat posisi matahari di langit, atau lewat tanda awal terbitnya matahari di ufuk timur, atau tenggelamnya di ufuk barat. Namun pendapat mereka dapat berbeda-beda. Maka Nabi merasa perlu adanya suatu cara memanggil masyarakat untuk shalat ketika waktunya tiba. Pada mulanya, beliau berpikir untuk menunjuk seseorang untuk meniupkan terompet seperti yang dilakukan kaum Yahudi, tetapi beliau kemudian memutuskan untuk menggunakan genta yang terbuat dari kayu, naqus, seperti yang dilakukan umat Kristen di Timur pada waktu itu. Maka 2 lembar kayu dibentuk denta untuk kegunaan itu.

Namun genta itu akhirnya tidak pernah digunakan karena pada suatu malam, seorang Khazraj, Abd Allah ibn Zayd, yang ikut dalam Aqabah Kedua, bermimpi. Dia menceritakannya kepada Rasulullah.
Dalam mimpi itu ada seseorang lewat didepanku mengenakan dua baju berwarna hijau dan ia membawa naqus. Lalu aku bertanya kepadanya,
"Hai Hamba Allah! Maukah engkau menjual naqus itu kepadaku?"
"Apa yang akan kau lakukan dengannya?" ujar lelaki itu.
"Ia akan kami gunakan untuk memanggil orang-orang untuk shalat." jawabku.
"Maukah engkau bila kutunjukkan satu cara yang lebih baik?" tanyanya.
"Cara apa itu?"
"Hendaknya engkau mengucapkan,
Allahu Akbar Allahu Akbar , lelaki berbaju hijau mengulangi takbir sebanyak 4 kali.
Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
Hayya 'alash sholah (2 kali)
Hayya 'alal falah (2 kali)
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah
Nabi menegaskan bahwa mimpi Abd Allah itu benar. Maka beliau menyuruh dia pergi ke Bilai agar ucapan yang didengar dalam mimpinya itu diajarkan kepadanya.

Selanjutnya moderator meneruskan acara berikutnya, yakni kultum, kuliah tujuh menit… dan utk malam ini kultum akan disampaikan oleh ikhwah kita, akhi Iwan Erik…
….Setelah Ramadhan Berlalu…
Setelah bulan Ramadhan berlalu, orang akan terbagi menjadi beberapa bagian,
namun secara garis besarnya mereka terbagi dua kelompok:Kelompok yang pertama:
Orang yang pada bulan Ramadhan tampak sungguh-sungguh dalam ketaatan, sehinggga orang tersebut selalu dalam keadaan sujud, shalat, membaca Al-Quran atau
menangis, sehingga bisa-bisa anda lupa akan ahli ibadahnya orang-orang terdahulu
(salaf). Anda akan tertegun melihat kesungguhan dan giatnya dalam beribadah.
Namun itu semua hanya berlalu begitu saja bersama habisnya bulan Ramadhan, dan
setelah itu ia kembali lagi bermalas-malasan, kembali mendatangi maksiat
seolah-olah ia baru saja dipenjara dengan berbagai macam ketaatan kembalilah ia
terjerumus dalam syahwat dan kelalaian. Kasihan sekali orang-orang seperti ini.
Sesungguhnya kemaksiatan itu adalah sebab dari kehancuran karena dosa adalah ibarat luka-luka, sedang orang yang terlalu banyak lukanya maka ia mendekati
kebinasaan. Banyak sekali kemaksitan-kemaksiatan yang dapat menghalangi seorang
hamba untuk mengucap “La ilaha illallah” ketika sakaratul maut.
Setelah sebulan penuh ia hidup dengan iman, Al-Quran serta amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, tiba-tiba saja ia ulangi perbuatan-perbuatan
maksiatnya di masa lalu. Mereka itulah hamba-hamba musiman mereka tidak mengenal
Allah kecuali hanya pada satu musim saja (yakni Ramadhan), atau hanya ketika di
timpa kesusahan, jika musim atau kesusahan itu telah berlalu maka ketaatannyapun
ikut berlalu.Kelompok yang kedua: Orang yang bersedih ketika berpisah dengan
bulan Ramadhan mereka rasakan nikmatnya kasih dan penjagaan Allah, mereka lalui
dengan penuh kesabaran, mereka sadari hakekat keadaan dirinya, betapa lemah,
betapa hinanya mereka di hadapan Yang Maha Kuasa, mereka berpuasa dengan
sebenar-benarnya, mereka shalat dengan sungguh-sungguh. Perpisahan dengan bulan
Ramadhan membuat mereka sedih, bahkan tak jarang di antara mereka yang
meneteskan air mata.
Apakah keduanya itu sama? Segala puji hanya bagi Allah! Dua golongan ini
tidaklah sama, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Barang siapa berpuasa siang hari di bulan Ramadhan dan shalat di malam harinya, melakukan kewajiban-kewajibannya, menahan pandangan-nya, menjaga anggota badan serta menjaga shalat jum’at dan jama’ah dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan ketaatannya sesuai yang ia mampu maka bolehlah ia berharap
mendapat ridha Allah, kemenangan di Surga dan selamat dari api Neraka. Orang
yang tidak menjadikan ridha Allah sebagai tujuannya maka Allah tidak akan
melihatnya.Jangan seperti orang yang merusak tenunan yang kuat hingga bercerai
berai
Hati-hatilah, jangan seperti seorang wanita yang memintal benang (menenun) dari kain tersebut ia bikin sebuah gamis atau baju. Ketika semuanya telah usai dan
nampak kelihatan indah, maka tiba-tiba saja ia potong kain tersebut dan ia cerai
beraikan, helai-demi helai benang dengan tanpa sebab.
Berhati-hati jualah Anda! jangan sampai seperti seorang yang diberi oleh Allah
keimanan dan Al-Quran namun ia berpaling dari keduanya, dan ia lepaskan keduanya
sebagaimana seekor domba yang dikuliti, akhirnya ia masuk keperngkap syetan
sehingga jadi orang yang merugi, orang yang terjerumus di dalam jurang yang
dalam, menjadi pengikut hawa nafsunya, Naudzu billah mindzalik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita kepada orang yang telah kamu berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian mereka melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syetan sampai ia tergoda, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki sesunguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Tetapi ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannnya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membarrkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpa-maan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka ceritaklah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.“ (Al-A’raaf: 175-176).
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jika anak adam
meninggal maka putus sudah amalnya..” Maka dari sini tiada yang membatasi atau
memutuskan amal ibadah kecuali bila telah datang maut. Jadi meskipun bulan
Ramadhan telah berlalu maka seoarang Mukmin hendaknya jangan berhenti dari
menjalankan puasa, karena masih banyak puasa-puasa yang lain yang di syariatkan
dalam waktu setahun seperti puasa tiga hari dalam tiap bulan, puasa senin kamis,
puasa Arofah dan lain-lain. Demikian juga meskipun qiyam di bulan Ramadhan
(tarawih) telah usai maka seorang mukmin janganlah berhenti dari menjalakan
shalat malam.
Maka hendaklah Anda bersemangat untuk tetap teruskan kontinyu dalam beribadah sesuai dengan kemampuan Anda, dan perlu Anda ketahui beberapa cara untuk tetap berada di atas dinnullah dan ketaatan kepada-Nya:
1. Berdo’a supaya senantiasa tetap diatas agama Allah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak-banyak membaca do’a, dengan sabdaNya: “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati tetapkan-lah hatiku di atas agama-Mu: (HR. At-Tirmidzi 4/390).
2. Sabar, firman Allah (Al-Ankabut: 58-59).
3. Menelusuri jejak orang-orang shaleh, firman Allah (Hud: 120).
4. Dzikrullah dan membaca Al-Quran.
5. Mempelajari ilmu syar’I dan meng-amalkannya, firman Allah (An Nahl: 102).
Terakhir, ketahuilah bahwa termasuk ciptaan Allah adalah Surga, yang jika anda
ingin mendatanginya nampak penuh dengan kesusahan, dan ciptaan Allah yang lain
adalah neraka, yang jika anda mendatanginya terasa sangat menyenangkan. Surga
itu dihijab dengan hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sedangkan neraka
dihijab dengan syahwat dan hal-hal yang menyenangkan. Maka apakah termasuk
orang-orang yang berakal jika seseorang menjual surga dan seisinya dengan
kesenangan yang sesaat.
Jikalau Anda berkata: “Sesungguh-nya meninggalkan syahwat (kesenang-an yang menjerumuskan) itu perkara yang susah dan sulit. Saya (pengarang buku) menjawab:“Sesungguhnya rasa berat itu hanyalah bagi orang-orang yang meninggalkan syahwat bukan karena Allah. Adapun jika anda meninggalkannya secara sungguh-sungguh dan ikhlas, maka tidak akan terasa berat atau susah meninggalkan-nya kecuali pada awal permulaan saja, dan ini untuk menguji apakah benar-benar ingin
meninggalkannnya atau hanya-main-main saja. Jika dalam masa-masa ini mau
bersabar maka anda akan mendapati keutamaan dan kenikmatan dari Allah yang
begitu membahagiakan, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka
Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Sebagai perumpamaan dari hal tersebut, yakni kaum muhajirin yang berhijrah
meninggalkan harta mereka, tanah kelahiran mereka, kerabat dan teman,
semata-mata karena Allah maka akhirnya mengganti dengan rizqi-rizqi luas di
dunia dan di surga.
Nabi Ibrahim alaihis salam ketika pergi meninggalkan kaumnya, bapaknya dan
apa-apa yang mereka sembah selain Allah, akhirnya Allah memberikan putra Ishaq
alaihis salam dan Yakub alaihis salam serta anak turunan yang shaleh, Nabi Yusuf
alaihis salam juga manakala ia bisa menahan nafsu dan menjaganya agar tidak
tergoda rayuan dari majikannya. Dan ia bersabar di dalam penjara, ia lebih suka
kepada penjara tersebut agar menjauhkan diri dari lingkaran kejahatan dan
fitnah. Maka akhirnya Allah mengganti dengan kedudukan yang mulia di muka bumi.
(Sumber; Wa Madza ba’da Ramadhan )

Syukron jazakalloh kepada akhi Iwan Erik atas taujihnya… semoga kita bisa mengambil hikmah dr apa yg beliau sampaikan…

Acara selanjutnya yakni materi inti yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Ing. Khafid Beliau menyampaikan materi ttg Esensi Dakwah Ilallah,…

Dakwah adalah usaha terus menerus para da’i (du’aat) yang ditujukan kepada masyarakat yang di dakwahi (mad’uu). Gerakan dakwah secara umum berguna untuk melakukan perobahan melalui konsep terarah. Sasaran dakwah secara hakiki adalah “merubah tatanan dan kebiasaan masyarakat terbelakang (dzulumaat, gelap) kepada tatanan yang lebih maju terang, (an-nuur)”. Sasaran ini akan lebih jelas terlihat dalam pedoman yang diberikan oleh kitab suci Al Quran, diantaranya Surat (2)-Al Baqarah ayat 257; dan juga QS.(5)-Al Maaidah ayat 16, QS.(57)-Al Hadid ayat 9 dan QS.(65)-AthThalaq ayat 11.
Dalam bentuk operasionalnya dakwah memelihara keberadaan, eksistensi manusia yang telah di ciptakan Allah agar selalu melaksanakan tugas mulia dan istimewa sebagai khalifah Allah di permukaan bumi. Upaya dakwah kearah itu tidak boleh berhenti sampai kiamat.
Dakwah ilaa Allah memiliki sisi-sisi mengagumkan, diantaranya dakwah adalah tugas suci (mission sacre) melanjutkan risalah Rasul Allah melalui tabligh (balligh maa unzila ilaika min rabbika), menegakkan kalimat tauhid. Jika dakwah tidak ditunaikan sesuai risalah Islamiah, fa maa ballaghta risaalatahu, pasti akan berjangkit kema’shiyatan dan kekufuran akan menjadi-jadi serta bantuan dari Allah akan terjauh (lihat QS.(5)-Al Maidah ayat 67).
Dakwah menjadi tugas pribadi setiap mukmin. Sasaran yang hendak dicapai dengan kewajiban ini adalah membawa manusia kepada al-khair atau kehidupan yang Islami. Para du’aat dan lembaga dakwah jadinya mengambil peran sebagai meringankan beban pribadi umat yang di bina.
Menjadi kewajiban dakwah untuk menanamkan tanggung jawab timbal balik diantara umat dan pembinanya untuk saling menjaga keberadaan lembaga dakwah dan berkewajiban melahirkan juru dakwah sepanjang masa.
Dakwah memiliki program jelas amar makruf nahi munkar (lihat QS.3:104). Bila amar maruf nahi munkar tidak dilaksanakan terjadi bencana. Rasulullah mencontohkan hidup ini seperti sebuah pelayaran diatas perahu, dengan aturan-aturan yang terang. Tatkala seorang penumpang mencoba melobangi dinding perahu untuk mendapatkan air dengan cepat pada tempat duduknya, jangan dibiarkan saja perbuatan itu. Bila orang tak mau tahu dan bersikap membiarkan perbuatan itu, maka yang akan karam tidak hanya yang melobangi perahu semata, tetapi yang diam melihat (artinya enggan melaksanakan peran amar makruf) akan karam juga (Al Hadist). Dakwah mendapat sanjungan ahsanu qaulan, seruan indah. Ajakannya ditujukan untuk mengajak manusia agar mengikuti perintah Allah, da’aa ilallaah.
Realisasi dari dakwah yang benar senantiasa berbentuk karya nyata, wa ‘amila shalihan atas dasar penyerahan diri sepenuhnya kepada Islam, wa qaala innani minal muslimin, yang terlaksana sebagai bukti ketaatan kepada Khalik.
Yang menjadi ukuran dari amal karya nyata itu adalah tidak menyamaratakan yang baik dan buruk (lihat QS.41-Fush-shilat, ayat 33). Landasan dakwah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul. Sajian dakwah merupakan implementasi dari Dinul Haq, Agama Islam yang dibuktikan pada terjaganya jalinan hubungan vertikal hablum minallah dan hubungan horizontal hablum minan-naas (lihat QS. (3)-Ali Imran ayat 112).
Rangkaian ibadah dari dakwah ilaa Allah sanggup mengetengahkan rekonstruksi alternatif kehidupan duniawi sejalan dengan kehidupan kedepan (ukhrawi) sesuai wahyu Allah. Agama Islam merupakan ajaran yang solid rahmatan lil ‘alamin (lihat QS. (21)-Al Anbiya’, ayat 107). Solidnya ajaran Islam sesuai bimbingan Kitabullah dan sunnah Rasul sebagai agama fithrah yang damai, alamiah insaniyah, sesuai dengan zaman, mengajarkan hidup harmoni berkemampuan tinggi untuk berdampingan secara damai dengan seluruh umat manusia dalam meujudkan kesejahteraan hakiki. Kaedah-kaedah syar’I yang ditampilkan oleh ajaran agama berisikan perhatian mendalam terhadap pemupukan kesejahteraan materiil dan immateriil, baik dalam tatanan kehidupan sosial secara keseluruhan.
Maka ajaran agama selalu menyeru manusia agar hidup secara baik (shalih) baik secara individu, keluarga, kelompok, bangsa bahkan dunia.

Begitulah rangkaian acara demi acara liqo’ pekanan dilalui dengan penuh cinta…. Ada damba dan ada asa… ukhuwah yg senantiasa terbangun menjadi satu tubuh dan satu keluarga… barokallohulakum…
Sebelum acara ditutup maka ditentukan dulu petugas dan tempat liqo’ pekan depan.
Insya Allah utk tempat.. pekan depan di kontrakan akhi Bisma di Kampung Kandang
Petugas…Moderator : Akhi Ari Susanto
Pembaca Kitab Hadits : Akhi Isya
Kultum : Akhi Slamet Turseno

Demikian liputan tematik kajian pekanan cowok bakos class ’07. Dari pojok Biro Renum, reporter bang_mamet melaporkan.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

No comments: